Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melakukan kunjungan pabrik di PT. Asbuton Jaya Abadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Kunjungan pabrik ini dilakukan pada hari ini, Selasa (10/4/2018) Pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.

Tiga orang pejabat Kabupaten TTS yang berkunjung adalah Kepala Dinas PUPR Kabupaten TTS, S.A. Nggebu, Kabid Bina Marga Martelens Ch. Liu, dan Kepala Laborotarium Junior. E. Baker.

Ketiga tokoh ini diterima oleh Direktur Marketing PT. Asbuton Jaya Abadi, Alvi Fairuz, didampingi Borth of Director Tance Nawa, dan Kepala Produksi plus Kepala Laboratorium, Wawa.

Maksud dilakukan kunjungan pabrik sesuai penjelasan Alvi adalah untuk memperoleh informasi tentang keunggulan Asbuton hasil karya pihaknya untuk dikaji dan dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Cendana ini.

Penjelasan Alvi dan tim bahwa material atau agregat Asbuton berasal dari bahan-bahan lokal yang ada di Provinsi Jawa Timur, khususnya di Kecamatan Pasuruan.

Sedangkan material aspalnya sendiri berasal dari Pulau Buton di Lawele. Kenapa diambil dari Lawele karena di sana ada enam titik tambang Aspal Buton. Kadar aspal yang paling tinggi dari Lawele, antara 25-30 persen. Sebab spesifikasi yang dikeluarkan oleh Litbang Jalan untuk Cold Paving Hot Mix Asphalt (CPMHA) itu adalah B50/30; 50 itu penetrasi, sedangkan 30 adalah kadar aspal.

Selain itu pihaknya memiliki juga bahan peremaja untuk mempercepat aspalnya keluar dari Asbuton dengan menggunakan oil base, atau OB.

Kunci untuk campuran Asbuton adalah OB, sebab tanpa OB aspalnya sulit untuk keluar. Kalau dulu pakai oli bekas, oil, minyak berat. Jatuhnya terlalu mahal dan kualitasnya tidak terlalu bagus.

Sedangkan kelebihan dari OB bisa dicampur dengan air, makanya sewaktu produksi kita juga menggunakan air untuk menurunkan suhunya, serta dikemasan juga digunakan air. Kenapa? Karena Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) itu campuran panas di hamparan dingin itu suhu ruangnya kurang lebih 30 derajat.

CPHMA yang baru kita coba pada tiga komposisi, urainya menambahkan, yaitu AC-BC atau lapisan antara, AC-WC atau lapisan haus, dan MA yang fungsinya untuk penanganan sementara. MA sendiri tidak punya nilai struktur, sedangkan campuran dinginnya yaitu butur seal dan SS. Kenapa diberi nama Butur Seal? Karena awalnya Litbang pertama kali mencobanya di Buton Utara makanya dinamakan Buturseal.

Keunggulan CPHMA dibandingkan Hotmix

Keunggulan CPHMA, kata Alvi, bisa kita hampar pada temperatur 30 derajat, sedangkan hotmix harus pada hampar 100 derajat.

Selain itu, hotmix kalau di hampar di bawah 100 derajat berarti harus diganti.

“Asbuton dalam kondisi hujan atau temperatur rendah pengaspalan bisa kita kerjakan, sebab kekuatannya akan semakin menggila saat hujan tersebut. Sedangkan hotmix tidak bisa dikerjakan,” jelas dia.

Selain itu, urai dia, kekayaan Asbuton sangat besar. Semisal dalam satu tahun kebutuhannya hingga 1,2 Juta Ton bisa kita siapkan dalam kurun waktu 200 tahun. Sedangkan Pertamina hanya mampu mengadakan 400 ribu ton, 800 ribu ton kita masih impor, karenanya aspal minyak itu menjadi mahal. Oleh karena itu kita berupaya untuk mengembangkan Asbuton sehingga kedepannya tidak mengalami kekurangan aspal lagi.

Ia juga yakin bahwa bahan-bahan pembuatan Asbuton tidak bakal habis karena ditunjang dengan hasil penelitian dari Canada, dan Mexico sebagai tiga negara yang memproduksi Asbuton bersama dengan Indonesia.

 

Penulis: V.J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

30 − = 29