Walikota Kupang Jefri Riwu Kore menyambut peserta Pawai Kebudayaan memeriahkan HUT Kota Kupang Ke-132 dan Hari Jadi Kota Kupang ke-22, Senin (23/4/2018) petang. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) perduli terhadap masyarakat yang tertimpa penyakit Tubercolosis (TBC).

Melalui Gerakan ‘Ketuk Pintu’ warga untuk menemukan penderita TBC, yang telah dilakukan oleh Dinkes di 11 Puskesmas selama bulan April 2018, ditemukan sebanyak 103 orang sedang dalam keadaan mengidap gejala (Suspect) TBC.

Kepala Dinkes Kota Kupang Ari Wijana, di kantor Dinkes, Senin (30/4/2018) mengatakan, gerakan ‘Ketuk Pintu’ untuk menemukan penderita sudah sebanyak 15.101. Dari jumlah rumah yang sudah diketuk, ditemukan sebanyak 103 orang yang sedang tertimpa gejala TBC.

“Dari jumlah temuan gejala penderita TBC tersebut, dalam hasil pemeriksaan ditemukan sebanyak 13 orang positif dan sebanyak 82 orang negatif,” lanjutnya.

Sementara untuk13 orang tersebut, saat ini sedang mendapat penanganan di Puskesmas, agar mendapat pengobatan secara rutin.

Ary mengaku dalam penanganan pengobatan pasien TBC ini, harus dilakukan selama enam bulan, dan para pasien harus diawasi ketat dalam proses pengobatan.

Bakteri penyebab TBC (Tuberculosis) adalah jenis bakteri yang tahan terhadap asam. Begitu masuk ke dalam tubuh, bakteri ini bisa “tertidur” lama alias berada di fase “dorman” mereka tetap ada di dalam tubuh, namun tidak aktif berkembang biak. Padahal, kebanyakan antibiotik justru berfungsi saat bakteri ada di fase aktif. Fase dorman inilah yang diduga membuat bakteri kebal terhadap efek obat antibiotik.

“Memang, kebanyakan bakteri penyebab TBC akan mati saat pengobatan berjalan di minggu kedelapan, tapi beberapa bakteri yang masih ‘tertidur’ dan sudah kebal obat tetap memerlukan pengobatan lebih lanjut. Apabila tidak diobati, kemungkinan penyakit TBC Anda bisa kambuh, ditambah dengan risiko kuman yang menyerangnya menjadi semakin kebal terhadap obat,” tegas Ary.

Oleh karena itu, pungkas Ary, pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama dengan kombinasi beberapa macam antibiotik yang memiliki cara kerja berbeda. Tujuannya adalah untuk membunuh bakteri yang aktif sekaligus yang masih “tertidur” dan yang sudah resisten

 

 

Penulis : Nyongki
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 10 = 18