Walikota Kupang Jefri Riwu Kore melihat dari dekat lubang pembuang sampah medis yang telah di Police line oleh pihak kepolisian pada Jumat (5/1/2018) pukul 07.30 WITA. (Foto: Ayananews.com/Moral-politik.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Persoalan sampah medis di RSUD S.K. Lerik, Kota Kupang terus dicari solusi terbaiknya.

Pihak RSUD S.K. Lerik tengah menjajaki kerja sama dengan pihak RS Baromeus Kupang untuk pengolahan sampah medis dimaksud.

“Setiap harinya sampah medis di RSUD S.K. Lerik jumlahnya mencapai 50 kilogram, bahkan terkadang lebih. Sehingga kami butuh kerjasama dengan pihak ketiga untuk memusnahkan sampah tersebut,” kata Direktris RSUD S.K. Lerik, Marsiana Halek kepada Moral-politik.com di Balai Kota Kupang, Senin (9/4/2018).

Untuk itu pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan pihak RS. Baromeus, sebab rumah sakit itu merupakan salah satu rumah sakit yang mempunyai alat pemusnah sampah medis (incenarator).

“Sampah medis berbeda dengan sampah non medis. Sampah medis butuh penanganan tersendiri untuk pemusnahannya, sehingga kami butuh pihak lain untuk penanganannya. Saat ini pembicaraan kami menyangkut kerja sama sudah hampir rampung,” katanya.

Ia mengaku, sebenarnya pihak RSUD S.K. Lerik juga mempunyai incemarator, hanya saja daya tampungnya kecil sehingga tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk menangani sampah medis yang dihasilkan rumah sakit kota.

Selain penanganan medis, lanjut Halek, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan untuk penanganan sampah non medis. Dalam kerja sama ini, pihaknya megalokasikan anggaran Rp 5 juta setiap bulan untuk penanganan sampah non medis di RSUD S.K. Lerik.

 

 

Penulis : Nyongki
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 19 = 26