Foto: Ambuga/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Perayaan Paskah tahun 2018 kali ini diramaikan berbagai kegiatan.

Salah satunya adalah Pawai Etnis Paskah yang diprakarsai Gereja GMIT Benyamin Oebufu, Kota Kupang, Minggu (1/4/2018).

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof. DR. Ir. Fredrik L Benu turut hadir dan diundang sebagai akademisi.

Fredrik merasa bersyukur dan mengapresiasi aksi yang digelar Gereja GMIT Benyamin ini, karena pawai ini tak hanya menghadirkan etnis asal NTT saja, namun juga etnis luar NTT.

“Kita melihat ada sejumlah warna yang mewarnai perayaan Paskah tahun ini,” katanya di atas podium di hadapan ribuan warga, Minggu (1/4/2018).

Dia mengatakan sejumlah warna itu membentuk keberagaman, menciptakan mosaik-mosaik keindahan warna.

“Dalam aneka warna itulah akan terbentuk aneka mosaik keindahan warna-warni mewakili keberagaman kita. Dan jangan ada warna yang menyatakan warnanya paling indah dalam keberagaman ini,” komentarnya menegaskan.

Dia menjelaskan, bangsa Indonesia, khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan bangsa dan provinsi yang sangat kaya dengan keanekaragaman.

Untuk itu, lanjutnya, keberagaman ini haruslah dijaga, dirawat, dipelihara, dan jangan sampai terjadi hal-hal yang bisa memecah-belah persatuan bangsa.

“Semua orang berhak menunjukkan warnanya. Namun semua orang berkewajiban menjaga kesatuan dan persatuan bangsa,” katanya menegaskan.

Untuk diketahui, rombongan Pawai Etnis Paskah ini berarak dari Gereja Benyamin, melalui Jl Soeverdi-Oebufu, dan berkumpul di Bundaran PU.

Ribuan warga dari berbagai etnis turut mengambil peran, memadati jalan raya dengan pakaian adat dan tarian-tarian daerah.

Hadir pula etnis-etnis luar NTT, seperti etnis Jawa, Minahasa dan Toraja.

Tema yang diusung dalam Pawai Etnis ini adalah Terpanggil Menjadi Hamba Kebenaran yang Menghargai Perbedaan, Memperjuangkan Keadilan dan Perdamaian.

 
Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + 1 =