Ilustrasi istri seksi. Shutterstock

MORAL-POLITIK.COM – Ini benar-benar fakta bahwa tidak semua pria selalu berpikir tentang seks.

Tempo.co melansir, tim ilmuwan dari Italia mencoba mengungkap apa yang dipikirkan pria tentang seks melalui sebuah riset. Hasilnya, ternyata sangat kompleks. Menurut studi yang terbit dalam Journal of Sexual Medicine itu, hasrat seksual laki-laki tak selalu soal ereksi ataupun soal selangkangan.

“Banyak hal yang melatarbelakanginya,” kata Filipo Nimbi, pakar seksologi dari University of Rome yang memimpin studi, seperti dilansir laman Psypost, Februari lalu.

Nimbi dan tim mencoba merekrut 298 responden peneliti laki-laki yang berhubungan heteroseksual. Para responden ditanyai soal kehidupan seksual mereka. Dan ternyata, banyak faktor yang melatarbelakangi gairah seksual kaum Adam.

“Mulai dari tingkat energi, depresi, rasa takut, tekanan seksual, pandangan erotis, seks konservatif, hingga ejakulasi dini,” kata Nimbi. Dia menjelaskan, studi ini menekankan hasrat laki-laki dipengaruhi oleh stereotip seksual dan jenis kelamin. “Itu fakta yang tak terbantahkan,” kata dia.

Selain itu, Nimbi menjelaskan, ternyata laki-laki juga memikirkan ereksi dan cara untuk memuaskan pasangan mereka. “Mereka juga memikirkan perasaan dan emosi saat berhubungan,” ujarnya.

Hal itu berarti, kata Nimbi, seks di mata para laki-laki juga dimaknai dengan kebahagiaan pasangan. Perasaan, menurut dia, dilibatkan agar mendapatkan hubungan seks yang berkualitas.

Selama ini, Nimbi mengatakan, banyak anggapan bahwa laki-laki hanya memperlakukan hubungan seksual sebagai formalitas belaka. Atau, seks dimaknai sebagai tindakan hanya untuk mencapai orgasme. “Padahal itu salah,” ujarnya.

Memang, Nimbi dan tim juga mendapatkan tipe laki-laki yang seperti itu dalam studinya. “Ada juga yang tidak memakai perasaan, jadinya seks berlangsung cepat,” katanya. Bahkan, dia menemukan bahwa laki-laki yang ingin memiliki anak-anak malah tidak berniat melakukan hubungan seksual.

Menurut Nimbi, laki-laki tersebut takut menerima tanggungjawab baru untuk mengurus anak. “Itu yang membuat beberapa laki-laki enggan berhubungan seksual,” kata dia.

Nimbi mengakui studinya memang baru permukaan karena baru memfokuskan pada faktor psikososial. Banyak pertanyaan yang belum terjawab. “Perlu juga dipandang dari sudut etika, medis, sosial, hukum, dan agama,” ujar Nimbi.

 

Penulis  : Tempo.co
Editor    : Amri Mahbub, Athen
Sumber : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

28 − = 24