Foto: Richardo Z Therik/Moral-politik.com/Komodonews.info

 

MORAL-POLITIK.COM – Festival Makan Bose, Se’i, dan Lu’at (BSL) untuk memeriahkan HUT Kota Kupang ke-22 tahun 2018, menyisahkan kenangan elok.

Betapa tidak, Festival BSL ini digelar oleh Pemkot Kupang di area Car Free Day (CFD) Jl. Raya El Tari, Kota Kupang, Sabtu (21/4/2018) pagi selama lebih kurang tiga jam.

Masyarakat yang datang memeriahkan Festival BSL sekitar 30.000 orang; bukan saja dari Kota Kupang, tapi dari sejumlah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan pantauan Moral-politik.com, Festival BSL juga didukung oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya dengan kehadirannya yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT, Stefanus Ratoe Oedjoe, dan juga didukung oleh Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno.

Memang tak dapat ditampik bahwa ada pandangan miris soal penyelenggaraan Festival BSL ini. Sebab mengurus massa yang datang membludak bukan persoalan enteng.

Catatan media ini, sekitar 13 ribu massa datang tanpa membawa kupun yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara, akibatnya tak mencicipi langsung nikmatnya BSL yang telah disediakan.

Sedangkan mereka yang mendapat kupon makan BSL sebagaimana catatan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) berjumlah 18.650. Karena itu Pemkot Kupang dinyatakan berhasil mencatat rekor dunia, untuk makan pangan lokal dengan peserta terbanyak.

Eksesnya bermunculan komentar miris di sejumlah Grup Facebook. Tapi ini bukan sesuatu kesalahan besar. Walaupun kesalahan besar dan kecil sekalipun, tetaplah bernama kesalahan. Anggap saja ini sebagai pembelajaran berarti untuk merancang event-event berikutnya.

Terpenting dari semua itu, Pemkot Kupang telah bernyali dan berkemauan baik untuk bikin Festival yang menggetarkan masyarakat dunia. Sama halnya dengan Pemerintah Kabupaten Belu yang telah sukses menyelenggarakan Festival Fulan Fehan pada 28 Oktober 2017 yang lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 tahun.

Ada hal lain yang bikin Festival BSL takkan mudah dilupakan begitu saja sepanjang peradaban dunia masih terus bergulir, yaitu kehadiran wanita-wanita cantik dari “Provinsi Seribu Julukan” ini, dengan beragam macam busana dan aksesoris yang menghiasi tubuh elok mereka, membuat mata pria-pria tampan tak ingin berpaling ke lain posisi. Sama halnya dengan kehadiran pria-pria ganteng, manis, macho banget bikin wanita-wanita menyunggingkan pesona senyum, kendati terbungkus apik di dalam sukma.

Festival BSL sudah usai. Proficiat kepada Pemkot dan seluruh masyarakat Kota Kupang atas torehan prestasi bersejarah yang akan di simpan manis sepanjang peradaban dunia masih terus berlanjut.

Tantangan berat sedang menanti di depan mata, diantaranya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pengentasan kemiskinan, pelayanan kesehatan, dan mimpi baru untuk menjadikan Kota Kupang sebagai Kota Pariwisata.

Bagaimana fakta melalui potret-potret pada acara Festival BSL 2018 ini? Simak saja di bawah ini.

 

 

Penulis : V.J. Boekan (Sastrawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 8 =