Ilustrasi. (foto: ninaneelofa.wordpress.com)

 

Puisi: IF *)

WANITA BERLISAN IBLIS

Sukma…
Begitulah namamu
Terdengar suci nan elok
Tapi sayang, tidak untuk lisanmu

Sukma…
Wanita tua, bersanggul lebar
Beralis mata palsu
Tutupi keriput di pipi

Sukma…
Katamu seniman dan budayawati
Sukanya aurat tergerai yang katanya suci
Ketimbang cadar pembungkus aurat yang sebenarnya lebih mulia nan suci

Sukma…
Katamu juga seorang muslimah
Tapi tak tahu syariat sang pencipta
Suara kidung ibu indonesia
Bagimu sangatlah indah
Melebihi lantunan ayat sang maha cipta
Yang terlebih dahulu bergema sebelum adanya indonesia merdeka

Sukma…
Katamu paham akan budaya dan keragaman
Menjunjung tinggi bineka tunggal ika
Tapi tak tahu cara menghormati umat beragama
Sepertinya kau miskin agama

Sukma…
Banggamu pada ibu indonesia
Tapi tak tahu jati diri ibu sesungguhnya
Suci luhur nan mulia
Tidak seperti kau
Yang berlisan iblis durjana
Sukma…
Katamu puteri sang revolusioner
Lahir dari kandung ibu pertiwi
Tapi buruk budi pekerti
Kau tak pantas di bumi pertiwi

Lantas,
Dimanakah tempatmu sesungguhnya?
Neraka jahanam, jawabanku

 

MAWAR MERAH

Kartini…
Begitu engkau disapa
Jiwa berani mengkritik
Melawan yang lalim

Kau menolak bungkam
Kau menolak lupa
Merah darah perjuangan
Kau kibar dalam jiwa suci

Telunjuk kau acung
Tanda mencari keadilan
Tak gentar rintangan
Terus berjalan
Restu bunda mewakili

Suara melantang
Pecahkan sejagat raya
Teriakan perjuangan
Teriakan kebebasan

Ilustrasi. (foto: leighpatterson.wordpress.com)

Bagimu kodrat
Bukan untuk menyekat
Perjuangan tak pandang perbedaan
Kita satu, kita sama

Kita satu rahim pertiwi
Kita satu tekad
Kita satu teriakan
Indonesia merdeka

 

PADAMU NEGERI

Merah putih berkibar
Berdiri tegak, membentang luas cakrawala
Siapa berani turunkan engkau?
Di sini, rela matiku berjuang

Di bawah sang saka ini
Terucap sabda bunda pertiwi
Mengikrar janji suci
Padamu negeri ku mengabdi

Ku menolak lupa
Ku menolak diam
Garuda busungkan dada
Kini tak lagi di sangkar
Terbang bebas, siap menantang

Foto: paspor.siap-online.com

Pada ia yang berhianat
Pada ia yang menindas
Ku berjanji, kau akan ku lenyap

Karena jiwa ragaku
Padamu negeri

 

KETIKA CINTA MENDEWA

Perempuanku
Perasaan melebihi batas
Hati diutamakan
Hilang kritik akal

Mengecap bualan kata
Terhipnotis beribu retorika
Sangkanya janji suci
Ternyata omong-kosong belaka bersembunyi

Kala hati digenggam
Remot kontrol si jantan bertindak
Jiwa dikuasa
Diri layaknya boneka

Foto: weeklyline.net

Membungkam
Melawan tanda tak sayang
Menuruti agar disayang
Dari harga baju hingga hilang harga diri

Buta hati si jantan
Dianggap cinta mainan
Bodoh betina terlambat sadar
Air mata penyesalan menjadi dasar

 

DUA PULUH SUARA

Pernah ada kisah
Dua puluh suara
Menggema di sudut ruang persegi empat
Bercat kuning, hijau

Di pertengahan tahun dua ribu tiga belas, silam
Awal semester tiga
Kala pembagian jurusan
Ilmu Pengetahuan Alam(IPA)

Mulanya asing
Mulanya risih
Hingga waktu berlalu ciptakan akrab
Mengikat rumpun, “Ipa Community”

Menjadi saudara
Meski tak sedarah
Bersusah, senang bersama
Dari tawa hingga ratapan tangis

Tujuan selalu sama
Makan sewadah
Milik satu, jadi milik bersama
Tak pandang jijik

Kami satu
Sekaki, sejalan
Saling menguatkan
Berbagi rasa

Foto: reskisululing.blogspot.co.id

Berpisah dipenghujung pendidikan
Tak jua ada yang berbeda
Kami tetap saudara
Meski dua puluh suara telah jarang bersua

Kepada dua puluh suara
Inginku bertanya
Adakah rindu yang menggebuh?
Di sini aku ingin bertemu

 

*) Penulis tinggal di Buton, dan Lembata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 1 =