Andreas William Koreh (tengah). Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Di tengah-tengah kebahagiaan meraih Juara I Lomba Daerah Irigasi (DI) Tingkat Nasional 2018, muncul kesangsian dan gugatan.

Tentu hal itu tak bisa diterima begitu saja, tanpa memberikan pencerahan agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Andreas William Koreh (Andre) yang berpeluh keringat, harus diminta keterangannya sebagai pejabat publik, yang tugas pokok dan fungsinya antara lain menanggapi pertanyaan masyarakat.

Hal yang dianggap paling mengganggu pihak media untuk diminta klarifikasi adalah status di Grup Facebook PEMUDA TTS yang dilansir oleh Denly Dethan 30 jam yang lalu soal “Potret RATA BENA sekarang tp herannya irigasinya juara satu lomba pemeliharaan thn 2018”, mendapat respons cukup banyak yaitu like sebanyak 197 dan dikomentari 28 kali.
Media ini yang mempublikasikan keterangan Andre saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp (WA), Jumat (4/5/2018).

Berikut ini wawancara lengkap media ini dengan Kadis Andreas.

Bisakah Anda menjawab pertanyaan dari Denly Dethan soal Potret RATA BENA sekarang tp herannya irigasinya juara satu lomba pemeliharaan thn 2018?

Kalau tanya juara satu dari mana harusnya pertanyaan itu diajukan ke dewan juri sebanyak 5 orang. Mereka adalah mantan pejabat di Kementerian PU, ada akademisi, ada praktisi. Bahkan ada seorang profesor. Mereka adalah Ir. Eko Subekti, Dipl. HE (Mantan Direktur Irigasi Ditjen SDA Kemen PU PERA); Ir. Djito, Sp1 (Mantan Kasubdit OP irigasi Ditjen SDA Kementerian PUPR; Ir. Prasidananto, M.Sc (Kasubdit Program dan Anggaran Ditjen SDA Kemen PU PERA); Prof. DR. Ir. Nadjadji Anwar, M.Sc (Guru Besar ITS Surabaya); dan Ir. Isprastya, M.Sc (mantan direktur Pengelolaan SDA Ditjen SDA Kemen PU PERA ).

Ada komentar lain yang perlu Anda klarifikasi seperti dikemukakan oleh Ananias Una: “JUARA SATU DARI MANA ?KALAU DILIHAT SEPERTI ITU JANGAN BERBOHONG DOSA BESAR JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA HARUSLAH BERTOBAT.

Selama ini air diukur secara manual dan banyak menggunakan cara-cara feeleng saja, seperti debit sekian maka mengairi sekian. Maka dari itu sekarang ini masyarakat pemilik sawah harus diari air dengan menggunakan haik lontar yang akan mencatat debit air secara real time, sehingga pengambilan keputusan tetang tanam oleh Komisi Irigasi (KI) menjadi akurat. Ini yang harus disosiaisasikan melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), karena P3A yang akan menyampaikan kepada para petani pola tanah kita adalah padi, padi, palawija misalnya. Selama ini karena menggunakan manual dia menjadi tidak akurat. Kita mengatasi kesenjangan tersebut dengan menggunanakan haik lontar dengan aplikasi PD Tanam. Dengan demikian kalau masih ada petak yang tak terairi air, memang karena debit air itu tidak sampe kesitu.

Berapa hektare lahan yang tersedia di DI Bena?

Kalau kita lihat khusus lahan pertanian yang potensial sebanyak 3.541 hektare yang fungsional ada 2.600 hektare lebih. Artinya, ada potensial lahan yang digarap. Siapa yang mencetak sawah? Bukan Dinas PUPR NTT. Itu tugas Dinas Pertanian Kabupaten TTS bersama masyarakat setempat.

Bagaimanakah cara mengelola lahan yang tersedia?

Cara membangun petak-petak tersier, petak-petak kecil juga di bangun oleh Dinas Pertanian. Kabupaten TTS melalu asosiasi irigasi yang terbentuk, sehingga debit yang diberikan oleh bendung bisa teroptimaliisasi. Jadi tidak heran ada yang bilang ada tanah yang masih kering karena belum tercetak. Tetapi dengan alat ini ternyata potensi air ada 4 kubik per detik. Artinya secara teori mampu mengairi lahan seluas 4000 hektare. Sebab lahan pertanian hanya 3541 hektare, yang sementara ini funsional baru 2.900 hektare. Artinya ada pengelolaan yang harus dimaksimalkan atau yang disebut kemarin oleh dewan juri harus di optimalkan.

Apa sisi kuat sehingga DI Bena bisa meraih Juara I?

Kenapa kita dinilai berhasil dan karena itu mendapat juara I? Karena ada peralatan yang memberikan informasi per 5 menit, yang dalam perkembangannya alat ini akan dipasang kamera. Jadi dalam real time tersebut kita bisa lihat adakah potensi air atau tidak? Bisa dengan memakai sistem yang memberikan peringatan dini kepada kita akan terjadi banjir. Itulah mengapa kita bisa mendapatkan jura 1, karena kita mendapatkan poin tinggi. Selain itu kita melakukan optimasi. Nanti dewan juri bisa melihat fakta itu karena memang itu belum diairi air, sehingga potensialnya 3.500 hektare masih ada 900 hektare yang belum digarap.

 

 

Penulis : V. J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 47 = 49