Andreas William Koreh. (foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Perlukah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) punya banyak Daerah Irigasi (DI) yang besar agar bisa menjadi solusi kesenjangan di bidang pertanian?

Media ini merasa penting untuk menggali pandangan brilian dari pejabat yang berkompoten di bidang pembangunan infrastruktur yaitu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT Andreas William Koreh (Andre).

Masih dalam euforia kemenangan karena berhasil meraih Juara I Lomba/Pemilihan Operasi dan Pemeliharaan Irigasi (Permukaan) Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018 di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Andre diminta pandangan-pandangan melalui sambungan WhatsApp, Sabtu (5/5/2018) siang.

Berikut ini jalannya wawancara terbuka dan bernas.

Apakah Anda yakin bahwa persoalan pertanian di NTT bisa dipecahkan dengan membangun DI yang banyak di seluruh kabupaten/kota?

Apabila kita memiliki banyak DI yang besar maka saya yakin bisa menjadi solusi atas kesenjangan kekeringan di irigasi yang ada di lahan-lahan pertanian. Bahkan peralatan yang kami kembangkan di DI Bena yaitu Haik Lontar dengan Program Petani Pede Tanam 1.0 menjadi riil kebutuhan di DI yang kering. Bahkan kita sebut petani Pede Tanam itu dalam kebijakan poin 1.0 ini akan menjadi pengembangan. Salah satunya kita akan pasang kamera sehingga alat ini bisa menjadi suatu sistem peringatan dini (early warning system).

Apakah dengan penggunaan kamera itu belum mencapai impian early warning system untuk memantau kemungkinan terjadinya banjir?

Tentu saja sangat bermanfaat, paling tidak setelah diketahui bakal terjadi banjir, secepat mungkin diambil langkah-langkah pencegahan. Lepas dari itu, saya ingin mengingatkan, sebuah penemuan baru jika hari ini dioperasionalkan belum langsung sempurna. Dia harus mengalami proses pengembangan. Oleh karenanya harus dicermati sebaik mungkin, seperti antara informasi bakal terjadinya banjir dengan banjirnya sendiri. Sebab air semakin keruh indikasi kuatnya akan terjadi banjir, sebab di hulu sungai sudah terjadi penumpukan air, sehingga sampai di hilir akan terjadi banjir, karena air telah keruh. Jadi antara indikasi banjir dan terjadinya banjir kita bisa pelajari.

Dari lima orang juri, catatan dari juri mana yang sangat mengesankan DI Bena?

Dewan juri sebanyak 5 orang. Semua juri sangat mengesankan kami, karena sosok mereka sangat mumpuni, seperti mantan pejabat di Kementerian PU, ada akademisi, ada praktisi. Bahkan ada seorang profesor. Mereka adalah Ir. Eko Subekti, Dipl. HE (Mantan Direktur Irigasi Ditjen SDA Kemen PU PERA); Ir. Djito, Sp1 (Mantan Kasubdit OP irigasi Ditjen SDA Kementerian PUPR; Ir. Prasidananto, M.Sc (Kasubdit Program dan Anggaran Ditjen SDA Kemen PU PERA); Prof. DR. Ir. Nadjadji Anwar, M.Sc (Guru Besar ITS Surabaya); dan Ir. Isprastya, M.Sc (mantan direktur Pengelolaan SDA Ditjen SDA Kemen PU PERA ). Itu yang menyebabkan juri Pak Eko memberikan apresiasi yang besar kepada kita, karena dirinya telah beberapa kali mencoba di daerah-daerah irigasi besar. Artinya kita dihargai sebagai DI Teladan karena melakukan terobosan-terobosan berupa pengendalian daya rusak air. Paling tidak kami tahu air yang datang berapa kecepatannya, ketinggian naiknya berapa, sehingga dengan demikian kebijakan yang diambil sama dengan semangat kita yaitu bekerja keras, ambil langkah cepat, dan tindakannya tepat.

Bagaimana jika Anda sudah bekerja keras, tapi langkah tidak tepat, begitu pula dengan tindakannya tidak tepat, apa konsekuensinya?

Tentu tidak ada manfaatnya. Saya pun berkesimpulan mengapa DI Bena menjadi DI Teladan, karena kita punya aplikasi yang mumpuni, di samping sarana dan prasana yang di bangun itu masih baik. Bahkan ada statemen dari juri kalau melihat videotrom kita kemarin membuat DI di Pulau Jawa menjadi iri, karena sepanjang irigasi masih bagus, airnya juga jernih.

Lepas dari itu cukup banyak kritik dan saran yang dialamatkan kepada Anda. Bagaimana Anda mensikapinya?

Singkat kata segala kritik, dan segala saran kita tampung. Tapi jangan lupa bahwa hasil presentasi kami kemarin, dewan juri mengatakan Bapak itu tinggal tingkatkan operasi. Hal operasi ini dilakukan oleh para operator, petani pemakai air atau P3A, petani irigasi. Selain itu lembaga Komisi Irigasi (KI) harus segera dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten TTS. Nanti setelah KI terbentuk, petani pemakai air mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan berdasarkan keputusan KI Kabupaten TTS. Oleh karena KI Kabupaten belum terbentuk maka KI Provinsi yang turun. Menurut saya ini hal yang bagus, karena kita bisa bercermin. Semisal DI kita bagus tapi masih kurang di operasinya.

Dengan peralatan baru seperti yang Anda sering katakan, apakah bisa dijadikan sebagai sarana banding system irigasi dan produktivitas yang diraih oleh petani?

Aplikasi kami itu namanya Haik Lontar dengan soft ware bernama Petani Pede Tanam 1.0. Peralatan ini kita bisa gunakan untuk mengamati secara cermat terjadinya perbedaan perilaku. Terutama bagaimana fakta yang terjadi sebelum adanya alat ini dengan setelah ada, terjadi perubahan signifikan atau tidak?

 

Penulis: V.J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 64 = 66