Alfons Loemau. (foto: youtube.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Pertemuan ‘ala’ kebetulan ‘ala’ pinggiran jalan Ibu Kota.

Sebuah Toyota Harrier keluaran terbaru memberi sinyal lampu dari arah depan, seakan mau berhenti.

Benar juga, malah kendaraan warna hitam ini berhenti tepat di depan kami. Seorang pria dengan mode rambut menyisir keatas dan dandanan rapih turun dengan gagahnya; badannya tegap, urat-uratnya kekar, semangatnya masih kentara.

Saya dalamhati, “Orang ini sepertinya mau nantang ko, parkir oto rapat di depan biji mata dan ban hampir lar ilewat jari kaki”.

Kemudian, ia menyapa dengan senyum ramah kepada teman di sampingku, Nai Melky Lelo, salah satu Anggota DPRD Belu.

Oh, rupanya mereka saling kenal. Dari Nai Melky Lelo kami pun berkenalan. Rupanya beliau adalah Alfons Loemau, orang yang namanya sudah bukan asing lagi di telingaku selama ini.

Figur Alfons Loemau, pria kelahiran Atambua, Belu, NTT tahun 1951 ini adalah salah satu putra Belu yang berkiprah di tingkat nasional pada jamannya, istilah kerennya “jaman tidak enak” waktu itu.

Tahun 1971, Alfons Loemau muda mulai masuk Akademi ABRI bagian Kepolisian di Sukabumi Jawa Barat dan tamat tahun 1974 dengan pangkat Letnan Dua Polisi.

Setahun kemudian, perwira muda kepolisian yang masih segar-seganya itu langsung menjabat Kasi Reskrim Polres Ende pada tahun 1975-1979.

Dari Ende, sang perwira yang sudah lima tahun lepas dari bangku studi ini harus kembali ke Jakarta dan duduk lagi di bangku studi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 1980.

Dari PTIK, ia menjabat Komandan Unit K9 Brimob Kelapa Dua dari 1982-1984.

Kariernya terus meningkat thingga telah menjabat sebagai Kapolsek Metro Menteng Jakarta Pusat tahun 1984.

Tentu, sudah merupakan rahasia umum bahwa bukan sembarang orang apabila bisa duduk di kursi jabatan Kapolsek Menteng Jakarta. Kenangnya, ketika menjabat Kapolsek Menteng itulah ia sukses dalam tugas-tugaspenting, diantaranya sebagai Tim Penyelidikan Kasus Pembunuhan Soelini Muljatno tahun 1984, Ketua Tim Penyelidikan meninggalnya WN Inggris, Miacheal Mayburi, tahun 1985, dan Ketua Tim Pengamanan TKP Kasus Teror Peledakan Roket Kedubes Jepang oleh WN Jepang, Tsutomo Shirosaki.

Kesuksesannya tersebut menghantarnya naik menjadi Kapuskodalops Polda Metro Jaya tahun 1986-1988.

Kemudian ia memperoleh lagi beberapa kepercayaan sebagai Ketua dan Anggota Tim, di antaranya yang paling berkesan adalah Tim Khusus Penyelidikan Perkara Tommy Soeharto tahun 2000.

Pertemuan pinggir jalan atau acara “bakudapa” tersebut berlanjut ke acara makan malam bersama yang penuh keakraban, layaknya orang sedaerah bersua di negeri seberang.

Barangkali karena aura yang sama, kami janjian untuk bertemu lagi di kantornya yang sekarang di Graha 74 Blok M Jakarta Selatan pada besok harinya. Perjalanan ke kantornya di Jalan Wolter Monginsidi tersebut cukup membawa suasana baru. Kita masih bisa melihat beberapa ruang terbuka dengan pepohonan dan bunga sepanjang pinggir jalan.

Don, sang asisten kepercayaannya mengajak dan kami naik kelantai dua. Ruangannya tertata rapih. Di dindingnya terpampang beberapa foto sang Figur kita bersama para petinggi negeri, di antaranya bersama Kapolri sekarang, Tito Karnavian. Ada beberapa lemari penuh buku, dan itulah hal yang menarik perhatianku, karena buku-buku tersebut adalah buku sebagaimana kantor seorang advokat. Ya, keseharian perwira purnawiran Polri ini, salah satunya adalah sebagai Advokat sekarang ini.

Bukanlahhal yang mengherankan untuk menjadi seorang praktisi hukum bagi seorang Alfons Loemau. Kiprahnya dalam bidang hukum terbilang ehm, demikianlah kesanku.

Berbagai pelatihan nasional maupun internasional sudah “dilahap” olehnya. Misalnya, T.O.T Intelectual Property Right, Australia Specialized Training Project tahun 2000, Diploma of Security Management, Edith Cowan University Perth–Australia tahun 1998, The 3rd Advanced Coursefor Senior Police Administrator pada International Research & Training for Criminal Investigation, The Japan National Police Academy, Tokyo-Jepang tahun 1999.

Dalam bidang dunia pendidikan hukum malah purnawiran pemegang gelar Doktoral (S3) ini menjadi Pengajar Mata Kuliah Hukum Pidana Keimigrasian pada Akademi Imigrasi, Tim Pengajar Mata Kuliah Hukum Pidana Tertentu (Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang) pada STIK–PTIK sejak tahun 2015–saat ini, Pengajar Mata Kuliah Hukum Pidana Tertentu pada Universitas Bung Karno tahun2014-2015, Pengajar Mata Kuliah Tindak Pidana Tertentu di Dalam KUHP pada Universitas Bung Karno tahun 2014-2015, Pengajar Mata Kuliah Hukum Pidana pada Universitas Bung Karno tahun 2013-2014, Tim Pengajar Mata Kuliah Konflik Sosial di Program Sarjana Strata Satu Ilmu Kepolisian Mahasiswa STIK-PTIK Tahun Ajaran 2011-2013.

Sang Figu bergelar S3 ini merasa gelar pendidikan penting dan wajib diraih, namun tidak penting untuk dituliskan di depan dan di belakang nama, akan maju sebagai salah satu Calon Anggota DPR RI Dapil II NTT (Belu, Malaka, TTU, TTS, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, dan Sumba).

Katanya, tanda kemajuan kehidupan politik yaitu adanya perubahan pada segala bidang, baik bidang aparatur hukum dan undang-undangnya,  mikro, maupun bidang sosial dan ekonomi kemasyarakatan pada tingkat nasional dan lokal. Legislative adalah salah satu instrumen pencipta danpenumbuh perubahan-perubahan itu. Apabila institusi kenegaraan gagal menciptakan perubahan secara sadar dan terencana, maka perubahan tanpa sadar secara sporadis yang akan menjadi perubahan kita”. Wow, “suatu pemikiran banget, maksudnya dapet” istilah anak ABG jaman now.

Selamat Berjuang Bung Alfons!

 

 

Penulis : Regen Mesah
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

23 + = 32